Saya akhirnya menemukan jawaban, mengapa Indonesia sulit untuk beranjak untuk maju menjadi salah satu kekuatan dunia, meskipun banyak ramalan mengatakan itu. Jawabannya adalah karena bangsa kita, masyarakat dan elit tak memiliki cukup integritas. (Sebagian besar) elit kita sibuk menggemukkan diri, keluarga dan kroni-nya sekalipun itu mengambil hak orang lain. Cukuplah kasus suap daging sapi menunjukkan hal itu. Seorang pemimpin partai islam yang tentunya paham dan bahkan mengajarkan sifat dan tindak-tanduk Rasulullah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Bukan hanya itu, ia mengakibatkan harga daging sapi membumbung tinggi sehingga rakyat tak bisa mendapatkan gizi yang baik atau menikmati bakso yang enak. Ia pun–  jika kelak terbukti — mesti bertanggungjawab atas dikonsumsinya daging celeng dalam bakso oleh ummat Islam.

Kasus ini seperti puncak gunung es, hanya contoh kecil bagaimana partai politik menjadikan kementrian yang dipimpin kadernya menjadi ATM. Tentu saja kasus-kasus lain harus diungkap dan dibawa ke pengadilan. Belum lagi di level lokal, elit-elit politisi dan birokrasi lokal berpesta diatas jalan rusak dan jeleknya fasilitas umum. Rakyat membayar pajak yang harusnya dikembalikan kepada mereka dalam bentuk fasilitas umum yang baik, namun para penjahat itu mengambil keuntungan dan membiarkan rakyat tetap kesusahan.

Bagaimana dengan masyarakat kita? Masyarakat juga punya persoalan dengan integritas. Serobot-menyerobot trotoar, parkir sembarangan, buang sampah di sungai adalah contoh bagaimana integritas masyarakat kita berantakan. Hal ini berangkat dari kegagalan pendidikan kita menanamkan integritas sebagai pilar dasar dalam pembentukan karakter. Maka ketika bodoh menjadi preman jalanan dan ketika pintar menjadi penjahat berdasi.

 

Tinggalkan Balasan