Bisakah jujur ketika menjadi PNS?

PNS identik dengan ketidakjujuran, selain tentu saja predikat-predikat lain: pemalas, kurang pinter dan tidak efisien. Pokoknya yang jelek-jelek deh.

Nah, aku baru mendengar sebuah cerita.

Rahmat (bukan nama sebenarnya) seorang PNS bergelar S2 dari Universitas terbaik di Indonesia merupakan staf di sebuah Kota di Indonesia. Suatu ketika, ia menjadi penanggungjawab sebuah proyek bernilai milyaran rupiah: pengadaan rumah layak huni untuk masyarakat miskin.

Cair atau tidaknya dana proyek, tergantung dari ditandatangani atau tidaknya dokumen-dokumen oleh si Rahmat. Nah, Rahmat baru mau menandatangani setelah melakukan pengecekan fisik. Akhirnya diantar oleh Fortuner si pengusaha yang mendapatkan proyek, diantarlah Rahmat mengecek sample rumah-rumah. Seusai pengecekan dan makan nasi padang, Rahmat diberikan amplop tebal oleh si pengusaha. Rahmat menolaknya dengan halus.

Nah, ketika pengecekan selesai, dokumenpun ditandatangani, artinya uang proyek bisa dicairkan. Pengusaha mengajak Rahmat ke suatu tempat dan menyodorkan amplop yang lebih tebal.

Rahmat menolak, kali ini dengan keras “Saya tidak menerima uang Pak, itu memang pekerjaan saya”.

Pengusaha itu kaget “Lho, saya kira dulu waktu Bapak menolak, itu isyarat minta lebih besar, saya jadi bingung nih. Kok disini gak kompak ya, ada yang minta, ada yang menolak”

Rahmat : “Pokoknya saya menolak uang dari Bapak, kalau ada yang minta, itu urusan dia”

***

Hmm, masih bisa jujur kan?

Tinggalkan Balasan