Menjelang Ramadhan, aku bertekad bahwa puasa tak akan mengubah ritme kerja. Maka ketika Sensei bertanya, “Bagaimana puasa? ” dalam konteks deadline? Aku menjawab dengan pede “Biasa saja Sensei, everything will be OK”

Nah, mulailah niat bertemu realitas.

Dua hari pertama puasa, aku mengalami sakit. Kepala nyut-nyutan dan badan lemas. Jadilah menghabiskan waktu di Apato untuk istirahat.

Hari selanjutnya badan kembali prima, namun ritme kerja berubah seperti Batman. Maklum, selesai tarawih sekitar pukul 10 dan sahur sekitar pukul 2 pagi. Jadilah banyak cerita nanggung: nongkrong di depan laptop dari seselesai tarawih sampai sahur, kadang dilanjut dari selesai subuh berjamaah sampai sekitar jam sembilan.

Setelah itu?

Tidur sampai jam 12 siang šŸ˜‰

Jadilah semua serba berantakan. Maklum, berada di depan laptop malam-malam tentu lebih menyenangkan untuk membaca berita pilpres, menyedot berbagai hal yang bisa disedot sampai mengurusi facebook dan blog, maklum selain blog yang ini, blog dosen indonesia juga butuh kasih sayang.

Disertasi, jelas kurangĀ disentuh, he he

Waktu efektif di kampus, mulai jam satu siang sampai jam 6 sore, juga tak lepas dari copras-capres.

Wah pasti aku butuh revolusi mental !!!

Selamat pagi, eh maksudnya selamat tidur semuanya.

1 Comment »

Tinggalkan Balasan